Gumuk Sepikul Pakusari Jember

Di tengah hamparan persawahan Desa Pakusari, Kabupaten Jember, berdiri dua bukit yang dikenal masyarakat sebagai Gumuk Sepikul. Bentuknya yang berdampingan membuat gumuk ini tidak hanya menjadi bagian dari bentang alam Jember, tetapi juga menyimpan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu cerita yang berkembang di masyarakat mengisahkan sosok bernama Ki Demen, seorang tokoh agama yang dikenal masyarakat setempat. Konon, setelah menghadiri pengajian, Ki Demen membawa dua nasi berkat menggunakan pikulan. Dalam perjalanan, ia merasa kelelahan dan berhenti di tengah persawahan. Berkat yang dibawanya kemudian ditinggalkan, sementara pikulannya tertancap di tanah. Seiring waktu, lokasi tersebut dipercaya berubah menjadi dua bukit yang kemudian dikenal sebagai Gumuk Sepikul. Cerita yang sama juga mengaitkan sebuah paku yang tertancap di kawasan tersebut dengan asal-usul penamaan Pakusari. Versi lain dalam cerita masyarakat menyebut tokoh tersebut sebagai

KiDemang, sehingga kisah mengenai asal-usul Gumuk Sepikul memiliki beberapa versi yang berkembang di masyarakat.

Namun, Gumuk Sepikul tidak hanya hidup sebagai sebuah cerita. Di sekitar kawasan tersebut, keberadaan gumuk telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tidak jauh dari Gumuk Sepikul, sekitar satu kilometer, terdapat sejumlah gumuk yang telah dimanfaatkan dan ditambang. Berdasarkan keterangan seorang ibu rumah tangga di sekitar kawasan, aktivitas tersebut turut menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat. Bagi sebagian warga, gumuk bukan hanya bentang alam yang berada di sekitar tempat tinggal mereka, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Di sinilah keberadaan gumuk mulai menghadirkan persoalan yang lebih luas. Ketika gumuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat saat ini, pada saat yang sama terdapat fungsi lingkungan yang manfaatnya mungkin baru terasa dalam jangka panjang.

Menurut Riswandha Imawan, S.H., M.H., dosen Fakultas Hukum Universitas Jember dengan konsentrasi Hukum Tata Negara (HTN), gumuk memiliki fungsi penting bagi kehidupan masyarakat, baik saat ini maupun bagi generasi mendatang. Keberadaan gumuk dapat membantu menyerap dan menyimpan air, menjadi penangkal angin, serta memberikan keteduhan bagi wilayah di sekitarnya. Fungsi tersebut juga berkaitan dengan keberadaan sumber mata air yang perlu dijaga karena kebutuhan air masyarakat akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk.

Persoalan pelestarian gumuk, menurut Riswandha, tidak sesederhana mempertahankan sebuah bukit. Perlindungan gumuk membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama pemerintah dan masyarakat. Pemerintah dapat memiliki keinginan untuk mempertahankan gumuk, tetapi di sisi lain pemilik lahan memiliki hak dan pertimbangan sendiri. Ada yang memilih mempertahankannya sebagai warisan keluarga, tetapi ada pula yang memiliki kebutuhan ekonomi sehingga memilih untuk menjual atau memanfaatkan lahannya.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya dua kebutuhan yang berjalan beriringan: kebutuhan masyarakat untuk memperoleh penghasilan dan kebutuhan untuk mempertahankan fungsi lingkungan gumuk. Bahkan, Riswandha menilai bahwa kebutuhan finansial masyarakat menjadi salah satu hal yang membuat persoalan pelestarian gumuk semakin kompleks. Dalam kondisi tertentu, ketika pemilik gumuk membutuhkan uang, keputusan untuk mempertahankan lahan dapat berhadapan dengan kebutuhan ekonomi yang lebih mendesak.

Karena itu, menjaga gumuk tidak cukup hanya dengan meminta masyarakat untuk mempertahankannya. Kesadaran mengenai pentingnya gumuk juga perlu dibangun sejak dini.

Riswandha menilai sosialisasi kepada generasi muda, terutama melalui sekolah, menjadi salah satu langkah yang paling mungkin dilakukan saat ini. Dengan mengenalkan fungsi dan pentingnya gumuk kepada siswa, kesadaran tersebut diharapkan dapat tertanam sebelum mereka menjadi bagian dari pengambil keputusan di masyarakat pada masa mendatang.

Pada akhirnya, Gumuk Sepikul bukan sekadar tentang legenda Ki Demen, pikulan, atau dua bukit yang berdiri berdampingan. Di balik cerita yang diwariskan masyarakat, gumuk juga menjadi bagian dari kehidupan warga, memiliki nilai ekonomi sekaligus fungsi ekologis yang manfaatnya dapat berlangsung hingga generasi mendatang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KASUS PENCABULAN, DOSEN UNEJ TERDUGA PELAKU!

Puluhan Mahasiswa Jember Lakukan Aksi Buntut Dugaan Krminalisasi Terhadap Demonstran Pada Aksi 30 Agustus Lalu