Pameran Seni Rupa Dewan Kesenian Kampus, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember
Lia, Panitia dan Ketua Umum Dewan Kesenian Kampus memberi keterangan dalam wawancara, para pengkarya mencoba menarik lebih jauh sebab yang melatarbelakangi ketidakidealan yang bisa ditemukan, dari hal tersebut dapat ditarik kesimpulan keterikatan antara diri dengan folks (masyarakat). Jadi Utopia digambarkan sebagai pijakan untuk berangkat mencoba membayangkan keidealan, juga diperluas supaya masyarakat bisa memahami dan merasa relate dengan karya. Ia juga menggambarkan tema soal perempuan, karya yang diusungnya adalah tentang sejarah Jugun Ianfu atau pekerja seks komersial pada zaman penjajahan Jepang yang telah diceritakan dari generasi ke generasi. Dari situ ia menarik ke dalam medan pameran sehingga masyarakat bisa merasa relate.
Begitu pula dengan Daffa, Membuat sebuah karya yang menceritakan tentang orientasi masyarakat yang terpaku pada uang sejak perkembangan Revolusi Industri, ia membayangkan utopia apabila masyarakat tidak berpaku pada uang tetapi kepada perkembangan pribadi, produktivitas, dan kesehatan. Rani, Menggambarkan keindahan tarian yang dibawakan oleh seorang penari. Namun, dibalik keindahan sebuah tarian terdapat sisi gelap yakni stigma negatif dari masyarakat yang menjadika penari sebagai objek dan penari juga sering mendapatkan pelecehan seksual oleh orang lain. Karya-karya yang dibuat oleh para pengkarya memiliki beragam makna didalamnya, kesenian berupa karya seni rupa tidak hanya mengungkapkan estetika semata, tetapi ada proses dibaliknya yang menyangkut emosi dan ekspresi yang ada di dalamnya. Lia juga berharap selain teman-teman dari UKM Kesenian, masyarakat juga dapat menyadari pentingnya berkesenian dengan cara seperti pameran hingga bisa menciptakan sinkronisasi. Dan kedepannya ia juga berharap dari hal yang disampaikan, semakin gencar untuk pembahasan hal seperti penggagasan karya secara lebih dalam untuk meluaskan makna. Harapan penyelenggara dari pameran ini adalah memberi kesan yang mendalam dan menyenangkan bagi masyarakat luas untuk memberi dampak yang nyata hinga membentuk pola pikir kemudian hari.
Lia, Panitia dan Ketua Umum Dewan Kesenian Kampus, mengatakan “Jadi simpelnya gini mas, agak susah untuk dicerna memang. Ada dua unsur disini, Simpelnya aku mengangkat tema soal perempuan, disitu aku sebagai pribadi mungkin merasa seharusnya perempuan yang terlibat dalam dunia pelacuran itu tidak dijustifikasi berdosa. Karena kadang mereka bekerja seperti itu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi ataupun faktor lainnya. Nah, disitu aku ber-utopia bahwa semoga suatu hari ada suatu masyaraka yang tidak usah mengenal konsep dosa sama sekali”, ujarnya.

Komentar
Posting Komentar