Pameran Seni Rupa Dewan Kesenian Kampus, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember


    Penulis: Sakha Prasetya 



    Kamis, 11 Desember 2025 ; Dewan Kesenian Kampus menyelenggarakan kegiatan pameran seni rupa yang mengangkat tema “Utopia dan Folks” dengan judul Pameran Muda Mudi Mudo Vol. 2 : Layers, yang dilaksanakan selama 3 Hari berturut-turut sejak tanggal 9 hingga 11 Desember 2025. Pameran ini mengadopsi nilai dari utopia yang berangkat dari ketidakidealan yang ada di lingkungan sekitar, baik itu dalam konteks hubungan keluarga, pertemanan, dan sosial. Dari Ketidakidealan tersebut teman-teman dari Dewan Kesenian Kampus mencoba membayangkan dan berharap melalui Utopia, sebuah angan-angan yang hampir tidak akan mungkin terealisasikan. Mereka mencoba membayangkan masyarakat yang ideal melalui utopia, tapi utopia dalam medan pameran tidak bisa hanya dikatakan tentang diri sendiri, karena sebisa mungkin harus merealisasikan dengan orang-orang yang ada di sekitar yang notabene merupakan publik atau masyarakat. Karya yang ditampilkan dari pameran ini sangat beragam, baik dari bentuk fisik, makna, hingga filosofi yang ada didalamnya tetapi tetap mengacu pada tema besar yang diusung pada pameran ini. Proses menyiapkan karya mulai dari penggagasan, perluasan gagasan, bentuk karya, dan yang terakhir adalah eksekusi, kurang lebih memakan waktu hingga 1 bulan.

    Lia, Panitia dan Ketua Umum Dewan Kesenian Kampus memberi keterangan dalam wawancara, para pengkarya mencoba menarik lebih jauh sebab yang melatarbelakangi ketidakidealan yang bisa ditemukan, dari hal tersebut dapat ditarik kesimpulan keterikatan antara diri dengan folks (masyarakat). Jadi Utopia digambarkan sebagai pijakan untuk berangkat mencoba membayangkan keidealan, juga diperluas supaya masyarakat bisa memahami dan merasa relate dengan karya. Ia juga menggambarkan tema soal perempuan, karya yang diusungnya adalah tentang sejarah Jugun Ianfu atau pekerja seks komersial pada zaman penjajahan Jepang yang telah diceritakan dari generasi ke generasi. Dari situ ia menarik ke dalam medan pameran sehingga masyarakat bisa merasa relate.

    Begitu pula dengan Daffa, Membuat sebuah karya yang menceritakan tentang orientasi masyarakat yang terpaku pada uang sejak perkembangan Revolusi Industri, ia membayangkan utopia apabila masyarakat tidak berpaku pada uang tetapi kepada perkembangan pribadi, produktivitas, dan kesehatan. Rani, Menggambarkan keindahan tarian yang dibawakan oleh seorang penari. Namun, dibalik keindahan sebuah tarian terdapat sisi gelap yakni stigma negatif dari masyarakat yang menjadika penari sebagai objek dan penari juga sering mendapatkan pelecehan seksual oleh orang lain. Karya-karya yang dibuat oleh para pengkarya memiliki beragam makna didalamnya, kesenian berupa karya seni rupa tidak hanya mengungkapkan estetika semata, tetapi ada proses dibaliknya yang menyangkut emosi dan ekspresi yang ada di dalamnya. Lia juga berharap selain teman-teman dari UKM Kesenian, masyarakat juga dapat menyadari pentingnya berkesenian dengan cara seperti pameran hingga bisa menciptakan sinkronisasi. Dan kedepannya ia juga berharap dari hal yang disampaikan, semakin gencar untuk pembahasan hal seperti penggagasan karya secara lebih dalam untuk meluaskan makna. Harapan penyelenggara dari pameran ini adalah memberi kesan yang mendalam dan menyenangkan bagi masyarakat luas untuk memberi dampak yang nyata hinga membentuk pola pikir kemudian hari.

    Lia, Panitia dan Ketua Umum Dewan Kesenian Kampus, mengatakan “Jadi simpelnya gini mas, agak susah untuk dicerna memang. Ada dua unsur disini, Simpelnya aku mengangkat tema soal perempuan, disitu aku sebagai pribadi mungkin merasa seharusnya perempuan yang terlibat dalam dunia pelacuran itu tidak dijustifikasi berdosa. Karena kadang mereka bekerja seperti itu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi ataupun faktor lainnya. Nah, disitu aku ber-utopia bahwa semoga suatu hari ada suatu masyaraka yang tidak usah mengenal konsep dosa sama sekali”, ujarnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KASUS PENCABULAN, DOSEN UNEJ TERDUGA PELAKU!

Puluhan Mahasiswa Jember Lakukan Aksi Buntut Dugaan Krminalisasi Terhadap Demonstran Pada Aksi 30 Agustus Lalu