PERAN PERS SEBAGAI PEMANTIK NASIONALISME

 Bulan Agustus merupakan momentum masyarakat Indonesia merayakan hari kemerdekaan, dimana puncak perayaannya berada di tanggal 17 Agustus. Berbicara soal kemerdekaan, tentunya sangat berkaitan dengan nasionalisme. Secara etimologi, nasionalisme berasal dari kata nation yang berarti bangsa dan isme yang berarti paham. Artinya, nasionalisme adalah paham kebangsaan. 


Sejauh ini pemaknaan nasionalisme kerap mengalami penyempitan. Kita hanya memahami nasionalisme sebatas penghormatan kepada bendera merah putih, mengikuti upacara hari senin, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal, hal-hal tersebut hanyalah nasionalisme yang bersifat simbolik. Jika ditelaah lebih dalam, definisi dari nasionalisme jauh lebih luas dari itu.


Mengutip dari beberapa tokoh, nasionalisme dapat dimaknai sesuatu yang luas,

- Soekarno melalui gagasan sosio-nasionalisme nya menyebutkan bahwa nasionalisme kita adalah nasionalisme yang mencari selamatnya seluruh umat manusia.

- Ernest Reinan yang memaknai nasionalisme sebagai keinginan untuk hidup bersama, memiliki warisan sejarah yang sama di masa lalu, serta keinginan untuk terus melanjutkan kehidupan bersama di masa depan.

- Ottoto Bauer menyebutkan bahwa nasionalisme merupakan persatuan karakter yang tumbuh karena kesamaan nasib.

- Bennedict Anderson mendefinisikannya sebagai komunitas dibayangkan atau _imagined community_ karena anggotanya mungkin tidak saling mengenal, tetapi mereka merasa memiliki identitas dan nasib bersama.

Melihat dari pemaknaan nasionalisme yang disebutkan diatas dapat ditarik benang merah bahwa nasionalisme adalah suatu kesamaan nasib dan adanya kehendak untuk bersatu.


Pers hadir sebagai alat menumbuhkan semangat nasionalisme untuk menyatukan individu dengan kesamaan nasib dan tujuan. Menurut Bennedict Anderson, perkembangan surat kabar berbahasa daerah yang beredar luas dapat menjadi wadah awal dalam membentuk nasionalisme karena memungkinkan pembaca lintas wilayah membayangkan pengalaman kolektif. Melihat konteks Indonesia, masyarakat Jawa dapat merasakan kesamaan nasib dengan masyarakat Kalimantan saat membaca berita penindasan yang dialami oleh masyarakat Kalimantan tanpa harus datang ke Kalimantan.


Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia sendiri tidak luput dari peran Pers, keberadaan Pers berperan penting untuk memberi informasi atas keterbatasan ruang. Salah satu toko pers Indonesia adalah R.M. Tirtoadhisoerjo, dimana Tirto adalah pribumi pertama yang memiliki media pers dikelola oleh pribumi sepenuhnya lewat “Medan Priaji” dengan menggunakan bahasa melayu pada tahun 1907. Pada masa itu Medan Priaji menjadi wadah informasi dan aspirasi bagi masyarakat pribumi serta menjadi alat kritik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Medan Priaji juga menjadi alat untuk melakukan advokasi terhadap rakyat pribumi yang tertindas. Karena keberhasilan Medan Priaji, Tirto juga membentuk surat kabar “Poetri Hindia” dimana surat kabar ini dikhususkan untuk perempuan yang bertujuan pendidikan, hak, dan kesetaraan kaum perempuan pribumi.


Namun keberadaan dari Medan Priaji hanya berlangsung selama 5 tahun karena adanya penjegalan dari pemerintah kolonial Belanda. Walaupun hanya bertahan 5 tahun media ini menjadi api yang mengobarkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia dan juga menjadi pemantik media-media pribumi untuk melakukan perlawanan atas penindasan, seperti Fikiran Ra'jat yang dipimpin oleh Soekarno pada tahun 1932, Majalah Banteng yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin pada tahun 1930-an, Islam Bergerak yang dipimpin oleh Haji Mohammad Misbach pada tahun 1915, dan masih banyak media lainnya.


Dari tulisan diatas dapat diartikan bahwa pers merupakan alat perjuangan dan penggerak spirit nasionalisme untuk melawan suatu penindasan. Ketika zaman penjajahan media pers digunakan untuk melawan kolonial Belanda, maka tidak menutup kemungkinan hari ini digunakan untuk melawan neo-kolonialisme dan neo-imperialisme. Sehingga sangat dibutuhkan peran pers yang memiliki keberpihakkan terhadap orang-orang yang tertindas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KASUS PENCABULAN, DOSEN UNEJ TERDUGA PELAKU!

Puluhan Mahasiswa Jember Lakukan Aksi Buntut Dugaan Krminalisasi Terhadap Demonstran Pada Aksi 30 Agustus Lalu