Menilai Tanpa Mengenal : Paradigma Negatif terhadap Masyarakat Madura
Di banyak obrolan santai maupun media sosial kita seringkali menempatkan masyarakat Madura sebagai masyarakat yang kasar, temperamental, sering membuat kerusuhan dan sering terlibat pertikaian. Gambaran ini diperkuat oleh pemberitaan dari media tentang konflik yang melibatkan masyarakat Madura di perantauan, sehingga stigma negatif itu seolah-olah semakin melekat pada masyarakat Madura. Padahal di balik kesan negatif itu, masih banyak masyarakat Madura yang justru hidupnya biasa-biasa saja seperti bekerja keras, mencari rezeki yang halal dan berusaha menjaga nama baik masyarakat Madura sendiri.
Tanpa disadari, ada dampak serius dari stigma negatif ini terhadap kepercayaan diri dan rasa harga diri pada masyarakat Madura. Di banyak daerah perantauan, sebagian orang Madura merasa dirinya dianggap “sudah pasti berbahaya” sebelum mereka benar-benar bersuara atau bertindak. Label negatif itu juga dapat memudahkan ejekan, perundungan bahkan lebih parah yaitu tindakan rasisme yang dianggap sebagai lelucon yang terkesan seolah-olah “hanya bercanda”. Padahal, masih sama seperti suku lain di Indonesia, masyarakat Madura juga terdiri dari berbagai latar belakang, karakter, pendidikan dan pengalaman hidup yang berbeda-beda.
Di saat kondisi yang terjadi saat ini, saya ingin menegaskan bahwa masyarakat Madura tidak seburuk persepsi yang beredar di masyarakat. Mereka tidak bisa disederhanakan menjadi satu warna, melainkan hadir dalam beragam corak, sama seperti pada masyarakat pada umumnya, ada yang salah ada yang benar, ada yang keras kepala tetapi ada banyak juga yang sabar dan toleran. Oleh karena itu, daripada mempercayai stigma tanpa pertimbangan, menurut saya lebih baik kita belajar untuk mengenali perbedaan, menghargai keberagaman dan berhenti untuk menyamaratakan seseorang hanya karena dari asal etnis masyarakatnya.
Masyarakat Madura tidak patut dicap seragam hanya karena ulah oknum yang berperilaku buruk. Setiap orang harus dinilai dari sikap dan perbuatannya, bukan dari suku atau dari etnis mana dia berasal. Dengan menghentikan kebiasaan menyamaratakan, kita bisa membangun ruang sosial yang lebih adil, dewasa, dan saling menghormati.
Komentar
Posting Komentar