Madura Swasta dan Madura Negeri : Stereotip Intraetnis dalam Masyarakat Madura
Suatu masyarakat sering kali dipahami sebagai kelompok yang memiliki identitas budaya yang
sama. Namun nyatanya, di dalam satu kelompok etnis pun dapat dijumpai pelabelan sosial
yang membedakan anggotanya. Fonemena yang terjadi dapat dilihat pada penggunaan istilah
“Madura Swasta” dan “Madura Negeri” yang seiring berjalannya waktu berkembang dalam
percakapan sehari-hari di sebagian masyarakat Madura. Pelabelan tersebut tidak
menunjukkan perbedaan etnis, melainkan digunakan untuk perbedaan karakter, gaya hidup,
cara berpikir hingga pola pergaulan individu yang sama-sama berasal dari suku Madura.
Istilah “Madura Negeri” kerap dikaitkan dengan stereotip sebagai individual yang lebih
tradisional, mempertahankan budaya lokal, dan sering kali dianggap jadul. Berbeda hal nya
dengan ”Madura Swasta” yang sering dipersepsikan sebagai kelompok yang lebih up to date,
terbuka terhadap perubahan yang ada, dan mengikuti perkembangan gaya hidup. Stereotip
terbentuk melalui interaksi sosial, percakapan antarkelompok, maupun media sosial sehingga
perlahan dianggap sebagai sesuatu yang wajar, meskipun tidak memiliki dasar empiris yang
dapat digeneralisasi kepada seluruh individu.
Masyarakat umum menggunakan istilah “Madura Negeri” kepada orang suku Madura asli
yang lahir dan besar di Pulau Madura (Bangkalan, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep).
Sebaliknya, istilah “Madura Swasta” adalah sebutan kultural bagi keturunan Madura yang
lahir, tumbuh, menetap di tanah perantauan, dan mengalami akulturasi dengan adat
setempat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas sosial tidak selalu dibentuk oleh perbedaan etnis,
melainkan juga dapat dikonstruksi melalui proses pelabelan di dalam kelompok etnis yang
sama. Dengan demikian, istilah "Madura Swasta" dan "Madura Negeri" dapat dipahami
sebagai bentuk stereotip intraetnis, yaitu pemberian label sosial kepada sesama anggota
kelompok etnis berdasarkan karakteristik tertentu yang dibangun dan dipahami secara
Komentar
Posting Komentar