APAKAH DISKRIMINASI IDENTITAS ADALAH HAL YANG TABU?
Identitas merupakan sebuah ciri-ciri alami tubuh yang membedakan antara satu
individu dengan individu lainnya. Warna kulit, ras, suku, dan agama adalah beberapa bentuk
identitas yang melekat pada saat kita pertama kali dilahirkan ke dunia. Namun, zaman telah
mengalami banyak perubahan tentang stigma masyarakat terhadap identitas. Apa yang kita
suka seperti makanan, minuman, hobi, bahkan jenis musik juga bisa dikualifikasikan menjadi
sebuah identitas tiap individu. Adanya perbedaan ini dapat menjadi pemicu utama terjadinya
dikriminasi. Menurut beberapa teori, diskriminasi dapat diartikan setiap pembedaan,
pembatasan, atau pengucilan yang dilakukan berdasarkan ras, warna kulit, jenis kelamin,
bahasa, agama, pandangan politik, asal-usul, atau identitas tertentu yang mengakibatkan
berkurang atau hilangnya pengakuan terhadap hak asasi manusia seseorang. Lebih lanjut,
pengertian dari dikriminasi identitas menurut Erving Goffman dijelaskan pada konsep stigma
yang menegaskan bahwa masyarakat sering memberikan stigma terhadap identitas tertentu.
Stigma ini membuat seseorang diperlakukan berbeda karena dianggap tidak sesuai dengan
norma sosial dominan. Diskriminasi identitas di era sekarang sudah marak hingga menyetuh
perihal genre musik. Genre musik sendiri dianggap menjadi identitas karena setiap individu
memiliki selera atau jenis gaya musik yang nyaman ketika didengarkan. Tentunya, ini bukan
sebuah permasalahan yang cukup rumit. Namun, dari permasalahan ini, bagaimanakah kita
dapat memutus budaya diskriminasi di hidup kita dengan tujuan untuk saling menghormati
apapun itu bentuk identitas kita.
Pada masa awal peradaban, diskriminasi sering muncul dalam bentuk perbudakan dan
penaklukan bangsa lain. Bangsa yang menang dalam perang biasanya menganggap dirinya
lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang ditaklukkan. Memasuki era kolonialisme
pada abad ke-15 sampai abad ke-20, diskriminasi berkembang lebih luas melalui penjajahan
bangsa Eropa terhadap wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Bangsa penjajah sering
menganggap masyarakat pribumi sebagai “ras inferior” atau ras yang lebih rendah. Puncak
diskriminasi terjadi pada era Holocaust di bawah kekuasaan Adolf Hitler. Jutaan orang
Yahudi dibunuh karena dianggap ras yang tidak layak hidup. Indonesia sendiri mengalami
diskriminasi identitas sejak zaman kolonial Belanda yang membagi masyarakat menjadi tiga
golongan utama, yakni golongan Eropa, golongan Timur Asing (Tionghoa, Arab, India), dan
yang paling rendah adalah golongan orang asli atau pribumi. Pembagian ini tidak semata-
mata menjadi pembagian secara administratif, tetapi juga menjadi pembeda pada segala
aspek. Setelah Indonesia merdeka, diskriminasi identitas tidak langsung hilang, namun
bentuknya berubah mengikuti situasi politik dan sosial. Salah satu bentuk nya ada pada
diskriminasi terhadap etnis Tionghoa pada zaman orde baru. Seiring berjalan nya waktu,
diskriminasi ini berkembang juga mengikuti perkembangan zaman yang menegaskan bahwa
diskriminasi identitas tidak selalu berbentuk aturan resmi negara. Banyak diskriminasi
muncul melalui stereotip sosial dan budaya populer seperti bagaimana cara kita berpakaian?
Apakah kita bergabung di komunitas tertentu? Bahasa daerah apa yang kita gunakan? Apa
warna kulit kita? Bahkan apa selera musik kita?Pembahasan ini akan berfokus pada diskriminasi genre musik yang secara mata
telanjang merupakan isu sosial biasa, namun bisa memberikan dampak berkepanjangan. Isu
sosial ini dapat kita jumpai di kehidupan zaman sekarang dan sasaran nya adalah Gen-Z
hingga Gen-Alpha. Munculnya stereotip ini berawal dari perbedaan jenis atau gaya lagu
yang menentukan identitas kita. Secara sistematis, biasanya antar individu akan merasa cocok
atau satu frekuensi apabila memiliki genre musik yang sama. Berawal dari antar individu,
selanjutnya akan berubah menjadi individu dengan kelompok apabila individu ini bergabung
dengan sebuah komunitas fanbase atau bahasa lainnya adalah skena. Diskriminasi genre
musik adalah bentuk perlakuan berbeda terhadap seseorang atau kelompok hanya karena
jenis musik yang mereka dengarkan, sukai, atau identik dengan identitas mereka. Pada
awalnya musik hanya dianggap sebagai hiburan, namun seiring perkembangan budaya, genre
musik berubah menjadi salah satu bagian dari identitas sosial. Contoh bentuk diskriminasi
identitas yakni penggemar musik metal sering dianggap kasar dan agresif, komunitas punk
sering dicap urakan dan antiaturan, pecinta K-pop sering dianggap berlebihan atau tidak
dewasa, sementara penggemar musik indie seing dicap sok eksklusif atau merasa paling
berbeda. Tidak bisa diganggu gugat, rata-rata setiap individu secara tidak langsung akan
menilai seseorang melalui genre musik, padahal anggapan tersebut hanyalah stereotip.
Beberapa waktu lalu, tengah terjadi salah satu bentuk diskriminasi genre musik yang
ada di Kota Jember. Menurut beberapa netizen, salah satu komunitas ternama di Jember
melakukan tindakan yang dianggap diskriminatif. Pasalnya, salah satu band ber-genre punk
secara tiba-tiba di-cut-off ketika sedang berada di atas panggung. Hal ini tentunya menjadi
pemicu ramainya kasus ini. Kemudian pihak band ini mengunggah melalui feeds Instagram di
akun professionalnya bahwa tengah terjadi bentuk diskriminasi genre musik. Hal ini menjadi
sorotan mata publik, utamanya pada setiap kelompok ataupun individu. Beberapa punggawa
band skena di Jember angkat bicara atas persoalan diskriminasi genre musik ini. Jeremi atau
yang kerap disapa “Bang Jer” adalah salah satu perwakilan dari band “Papa Acid” yang
bergenre rock ‘n’ roll. Bang jer menegaskan bahwa genre adalah jati diri yang di mana hal
tersebut menggambarkan jati diri individu. Ia juga mengatakan bahwa diskriminasi bisa saja
terjadi karena keadaan yang tidak memungkinkan, seperti perihal pasar musik yang berada di
Jember. Adapun perwakilan dari Band “De roja” yang bergenre rock ‘n’ roja sekaligus
perwakilan dari band punk “Redwine”, yakni Edgar Malik atau yang kerap disapa ”Mas Ed”
menjelaskan terkait genre, bahwasannya genre sendiri bukanlah sebuah identitas, melainkan
merupakan moodswing setiap individu. Salah satu punggawa dari Genre Shoegaze yakni
Hansen Christian atau dikenal sebagai Hansen memiliki pemikiran berbeda dari dua
narasumber tersebut. Hansen menegaskan bahwa secara historis genre adalah akal-akalan
media semata. Secara historis, di dunia ini cukup banyak genre musik dan terjadi beberapa
akulturasi genre yang akhirnya memunculkan beberapa genre yang lain. Menurut Hansen,
genre sudah tidak lagi relevan di dunia industri musik era sekarang.
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, dapat ditarik benang kesimpulan
bahwasannya setiap individu memiliki idealisme sendiri. Tidak memungkinkan untuk tidak
terjadi sebuah diskriminasi, tapi setidaknya kita berusaha untuk tidak membiasakannya
dan t i d a k menjadikannyabudaya. Mereka memiliki cara masing masing untuk mempertahankan citra baik band mereka
dengan cara berperilaku sebaik-baiknya di atas panggung maupun di luar panggung. Mereka
percaya, bahwa dengan mereka membiasakan hal-hal baik kepada penggemarnya ataupun
orang lain, maka kebaikan itu akan kembali kepada mereka yang menjalani. Sudah waktunya
untuk kita agar tidak membiasakan dan melakukan diskriminasi identitas, khususnya
diskriminasi genre musik. Karena dikriminasi genre musik inilah yang menjadi pemicu
diskriminasi pada aspek lainnya. Sebab, diskriminasi jenis ini bisa merembet pada
diskriminasi yang mengarah kepada hal yang privacy ataupun sensitif. Dengan membiasakan
untuk tidak mendiskriminasi genre musik, diharapkan bisa memutus budaya diskriminasi
lainnya agar kita tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang mempunyai rasa respect
dan tidak membeda-beda kan. Jadi, apakah diskriminasi masih tabu untuk dipahami lebih
lanjut? Atau, justru diskriminasi menjadikan pembeda bagi setiap manusia yang memiliki
identitas masing-masing? Bukan soal idealisme, tapi ini soal rasa menghormati dan saling
Komentar
Posting Komentar